Rabu, 10 November 2010

terowongan KA terpanjang didunia

Terowongan KA Terpanjang di Dunia

KEMACETAN adalah salah satu masalah di banyak negara, baik negara maju maupun tertinggal. Itu terjadi karena pertambahan penduduk yang diikuti pertambahan kendaraan, tetapi tak diikuti pertambahan prasarana jalan memadai. Kemacetan seakan-akan telah menjadi santapan sehari-hari masyarakat di berbagai kota besar.

Di negara berkembang seperti Indonesia pun, kemacetan sudah menjadi problem keseharian. Selama lebih dari satu dasawarsa masyarakat, khususnya di Jakarta, tak pernah bisa mengatasi kemacetan yang menjadi-jadi. Padahal, solusinya sebenarnya cukup mudah, yaitu pemerintah menyediakan mass rapid transportation (MRT). Memang sudah ada bus Transjakarta. Namun karena kemacetan tak teratasi juga, berarti keberadaan bus itu sebagai MRT belum efektif.

Mungkin pemerintah kita bisa meniru keseriusan Pemerintah Swiss dalam mengatasi kemacetan. Baru-baru ini, Pemerintah Swiss membangun terowongan kereta api (KA) terpanjang di dunia untuk mengakomodasi mobilitas warga. Kemacetan di Swiss sebenarnya hanya terjadi di jalan-jalan untuk akses ke luar kota. Di dalam kota, masyarakat tak mengalami kemacetan karena tersedia MRT yang efektif.

Permasalahan timbul di Swiss karena jalan berkelok kelok, terjal, dan berbahaya karena negara itu terletak di dataran tinggi. Dengan keadaan seperti itu, Pemerintah Swiss mempunyai gagasan cerdas membangun terowongan KA untuk sarana angkutan massal menembus Pegunungan Alpen.
Semula Cuma 16 Km Pada awal pembangunan, tahun 1982, panjang terowongan itu hanya 16 km. Namun seiring dengan pertambahan penduduk dan mobilitas yang meninggi, tahun 1994 pemerintah menyetujui kembali membangun terowongan lebih panjang.

Pembangunan terowongan itu untuk mengurangi truk yang melintas di sekitar Pegunungan Alpen yang terus bertambah. Pemerintah Swiss merasa perlu mengurangi kendaraan bermotor yang melintas di sekitar pegunungan itu, terutama truk pengangkut barang. Dengan membangun terowongan itu diharapkan sarana angkutan yang sebelumnya menggunakan truk, dapat beralih ke KA sehingga polusi di sekitar Pegunungan Alpen dapat ditekan. Langkah itu untuk mempertahankan kelestarian lingkungan.

Biaya untuk megaproyek itu sekitar Rp 90 triliun. Biaya sebesar itu memang pantas untuk mengatasi masalah kemacetan di Swiss. Pemilih Swiss membiayai proyek itu dengan membayar 1.300 dolar AS per orang. Masyarakat menyetujui pembangunan terowongan itu melalui berbagai referendum sekitar 20 tahun lalu.

Pertengahan Oktober lalu, terowongan sepanjang 57 km yang bernama Gotthard Base Tunnel berhasil menembus Pegunungan Alpen dan diperkirakan selesai sepenuhnya tahun 2017. Itulah terowongan terpanjang di dunia, mengalahkan terowongan bawah laut Seikan Tunnel di Jepang.

Proses pembangunan terowongan itu tidak main-main karena memakan waktu 16 tahun hanya untuk menembus Pegunugan Alpen. Terowongan dibuat sedemikian rupa sehingga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan dapat dilakukan evakuasi. Selain itu, untuk menghindari penundaan karena kereta saling tunggu di terowongan sepanjang 57 km itu dibuatlah jalur ganda.
Dua Cara Pengeboran Pengeboran dilakukan dengan dua cara, yaitu peledakan dengan dinamit untuk batuan sangat keras dan pengeboran untuk tanah standar.

Berat mesin bor 3.000 ton dengan panjang 396 m. Mesin pengebor dapat mengebor sepanjang 25-30 m per hari. Perlu empat mesin pengebor untuk mengebor terowongan yang dilakukan dari kedua sisi. Memerlukan sama-sama 25 pekerja yang bekerja secara bergiliran untuk mengoperasikan mesin bor raksasa itu.

Setiap hari butuh enam jam untuk mengecek mesin bor karena getaran keras yang ditimbulkan dapat menyebabkan beberapa bagian dari alat itu rusak. Setiap hari 7.000 ton batu dikeruk. Bebatuan itu dibor dan disalurkan melalui conveyor di belakang mata bor. Seperempat bagian bebatuan yang digali untuk menambal terowongan.

Pengeboran bisa sangat berbahaya bagi pekerja karena suhu udara di dalam terowongan bisa mencapai 50 derajat Celcius. Untuk mengatasi temperatur udara yang tinggi di dalam terowongan dibangun lubang ventilasi sepanjang 15 km. Lubang ventilasi itu akan mempertahankan suhu udara dalam keadaan normal dan menjaga kelembapan udara di dalam terowongan.

Diameter terowongan antara 8,8 m dan 9,5 m. Dengan diameter sebesar itu, terowongan dapat memuat KA bermuatan dua kali lipat dari muatan standar. Untuk mempercepat waktu pembangunan, empat terowongan akses dibangun sehingga pembangunan bisa dimulai bersamaan di empat lokasi berbeda.

Sebanyak 459 juta m3 bebatuan dikeruk dari dalam Pegunungan Alpen. Itu cukup untuk mengisi 13 gedung Empire State Building di New York, AS. Selanjutnya, bebatuan itu untuk mengembalikan Danau Alpine yang telah dikeruk. Untuk membangun terowongan itu dipekerjakan 2.500 orang.

Selama 14 tahun, mesin pengebor mengeruk gunung dari Erstfeld di utara ke Bodio di selatan. Pengerukan terakhir selesai pada 15 Oktober lalu. Selanjutnya, proses penyelesaian dijadwalkan rampung Desember 2017.

Jika selesai, kelak, waktu tempuh antara kota Zurich di Swiss dan Milan di Italia sejauh 216 km hanya sekitar satu jam. Menurut rencana, KA penumpang yang melintas di terowongan ini akan berkecepatan 250 km/jam, sedangkan KA barang 160 km/jam.

Ketika terbuka untuk lalu lintas tahun 2017, Gotthard Base Tunnel akan menggantikan rekor Jepang dengan Seikan Tunnel sepanjang 53,9 km sebagai terowongan terpanjang di dunia, termasuk saluran air, dan memungkinkan jutaan ton lebih barang yang akan diangkut dengan cepat melalui Pegunungan Alpen.

Swiss, negara seluas hanya 42 km2 dan berpenduduk 7,2 juta orang, telah melakukan langkah berani untuk membangun terowongan terbesar. Bagaimana dengan Indonesia? (Dela/dari berbagai sumber-51)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar